EFEKTIVITAS Cordyceps militaris DALAM MENEKAN POPULASI ULAT API

Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 29 June 2026 08:45

EFEKTIVITAS Cordyceps militaris DALAM MENEKAN POPULASI ULAT API

                     EFEKTIVITAS Cordyceps militaris DALAM MENEKAN POPULASI ULAT API

 

                                                                                                       Suseno Qurnia, SP. MP

 

 

Pendahuluan

  Ulat api merupakan salah satu hama defoliator utama pada perkebunan kelapa sawit yang mampu menyebabkan kehilangan luas daun secara signifikan. Serangan berat dapat menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman sehingga berdampak pada pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga, dan produktivitas tandan buah segar (TBS). Beberapa spesies ulat api yang umum ditemukan di perkebunan kelapa sawit Indonesia antara lain Setora nitens, Darna trima, Setothosea asigna, dan Thosea spp.. Kehilangan luas daun akibat serangan ulat api dilaporkan dapat menurunkan produktivitas tanaman hingga beberapa periode panen berikutnya apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat (Pahan, 2012). Selama ini pengendalian ulat api masih banyak mengandalkan insektisida kimia, namun pendekatan tersebut berisiko menyebabkan resistensi hama, resurjensi populasi, serta penurunan keberadaan musuh alami di lapangan (Wood, 2002).

Gambar 1. Ulat api Setothosea asigna

 

  Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pemanfaatan agen hayati menjadi salah satu alternatif yang semakin mendapat perhatian. Salah satu agen hayati yang potensial adalah Cordyceps militaris, yaitu cendawan entomopatogen yang diketahui mampu menginfeksi berbagai kelompok serangga, khususnya dari ordo Lepidoptera (Shrestha et al., 2012). Pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur, C. militaris ditemukan secara alami menginfeksi ulat api pada fase larva maupun pupa, sehingga berpotensi berperan dalam menjaga keseimbangan populasi hama secara alami (Aprianda et al., 2021). 

 

Biologi dan Mekanisme Infeksi Cordycepsmilitaris

  Cordyceps militaris merupakan cendawan entomopatogen dari famili Cordycipitaceae yang memiliki kemampuan menginfeksi berbagai jenis serangga. Siklus infeksi dimulai ketika konidia atau spora cendawan menempel pada permukaan kutikula serangga. Dalam kondisi kelembapan yang memadai, spora berkecambah dan membentuk tabung kecambah (germ tube) yang kemudian menghasilkan struktur infeksi untuk menembus lapisan kutikula serangga melalui kombinasi tekanan mekanis dan aktivitas enzimatik, seperti kitinase dan protease (Shrestha et al., 2012).

  Setelah memasuki hemocoel, hifa cendawan berkembang dan menyebar ke seluruh jaringan tubuh serangga. Pada fase ini, C. militaris memanfaatkan cadangan nutrisi inang untuk mendukung pertumbuhan miselium serta menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat bioaktif, termasuk cordycepin. Senyawa cordycepin diketahui mampu mengganggu metabolisme sel, sintesis RNA, serta respons imun serangga sehingga mempercepat proses kematian inang (Mongkolsamrit et al., 2021). Akibat infeksi tersebut, aktivitas makan larva menurun, perkembangan terganggu, dan akhirnya serangga mengalami kematian.

 

Gambar 2. Ulat api terparasit C. militaris

 

  Setelah inang mati, miselium terus berkembang dan keluar dari tubuh serangga. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai, cendawan membentuk stroma berwarna jingga terang yang menjadi ciri khas C. militaris. Struktur reproduktif tersebut kemudian menghasilkan spora baru yang dapat menyebar dan menginfeksi inang lain di sekitarnya (Shrestha et al., 2012).

 

Efektivitas dalam Menekan Populasi Ulat Api

  Efektivitas C. militaris dalam mengendalikan serangga telah dilaporkan pada berbagai spesies Lepidoptera. Penelitian yang dilakukan oleh Glover et al. (2023) menunjukkan bahwa aplikasi C. militaris pada larva Helicoverpa zea mampu menghasilkan tingkat mortalitas hingga lebih dari 90% pada instar awal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa larva muda cenderung lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan larva tua karena memiliki ketebalan kutikula yang lebih rendah dan sistem pertahanan yang belum berkembang sempurna.

 

Gambar 3. Pupa Ulat api terparasit C. militaris

  Pada perkebunan kelapa sawit, keberadaan C. militaris sering ditemukan menyerang fase prepupa dan pupa ulat api yang berada di sekitar piringan tanaman. Aprianda et al. (2021) melaporkan bahwa cendawan ini secara alami ditemukan menginfeksi ulat api di beberapa perkebunan kelapa sawit di Muara Wahau, Kalimantan Timur. Infeksi pada fase pupa memiliki dampak yang sangat penting karena dapat menggagalkan pembentukan imago (ngengat dewasa), sehingga secara langsung memutus siklus hidup dan menurunkan potensi ledakan populasi generasi berikutnya.

  Selain menyebabkan mortalitas langsung, keberadaan C. militaris juga berpotensi menimbulkan efek subletal. Larva yang terinfeksi umumnya mengalami penurunan aktivitas makan, pertumbuhan yang lebih lambat, serta gangguan proses metamorfosis. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kerusakan daun yang ditimbulkan menjadi lebih rendah dibandingkan populasi ulat yang sehat (Mongkolsamrit et al., 2021).

  Namun demikian, keberhasilan infeksi di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Menurut Zimmermann (2007), sebagian besar cendawan entomopatogen memerlukan kelembapan relatif tinggi untuk mendukung perkecambahan spora dan perkembangan miselium. Oleh karena itu, efektivitas C. militaris umumnya lebih tinggi pada musim hujan atau pada areal perkebunan yang memiliki kelembapan mikro tinggi dibandingkan pada kondisi kering berkepanjangan. 


Peran dalam Pengendalian Hama Terpadu

  Pemanfaatan C. militaris sejalan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menekankan keseimbangan ekosistem dan pengurangan ketergantungan terhadap pestisida kimia. Keunggulan utama cendawan ini adalah kemampuannya untuk berkembang secara alami di lingkungan setelah berhasil menginfeksi inang. Dengan demikian, efek pengendalian dapat berlangsung lebih lama dibandingkan insektisida kimia yang umumnya memiliki residu terbatas (Shrestha et al., 2012) Konservasi musuh alami merupakan langkah penting untuk mempertahankan efektivitas C. militaris di lapangan. Penggunaan insektisida berspektrum luas secara berlebihan dapat menghambat perkembangan populasi cendawan entomopatogen dan menurunkan efektivitas pengendalian alami. Oleh karena itu, strategi pengendalian yang memadukan monitoring populasi ulat api, konservasi musuh alami, serta penggunaan insektisida secara selektif akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan (Wood, 2002). Dalam konteks perkebunan modern yang mengarah pada prinsip keberlanjutan, pemanfaatan C. militaris memiliki prospek yang sangat baik sebagai komponen bioinsektisida. Pengembangan teknologi produksi massal, formulasi yang stabil, dan teknik aplikasi yang efisien berpotensi meningkatkan pemanfaatannya dalam program pengendalian ulat api pada skala perkebunan yang lebih luas (Aprianda et al., 2021).

 

Kesimpulan

  Cordyceps militaris merupakan cendawan entomopatogen yang berpotensi besar dalam menekan populasi ulat api pada perkebunan kelapa sawit. Mekanisme infeksi yang melibatkan penetrasi kutikula, kolonisasi jaringan internal serangga, dan produksi metabolit bioaktif mampu menyebabkan kematian larva maupun pupa serta memutus siklus hidup hama (Shrestha et al., 2012; Mongkolsamrit et al., 2021). Observasi lapangan di perkebunan kelapa sawit menunjukkan bahwa C. militaris berperan sebagai musuh alami penting yang dapat membantu menjaga populasi ulat api tetap berada di bawah ambang ekonomi (Aprianda et al., 2021). Dengan dukungan kondisi lingkungan yang sesuai dan penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu, C. militaris memiliki prospek yang sangat baik sebagai agen pengendali hayati yang efektif dan ramah lingkungan.

 

Daftar Pustaka

Aprianda, E., Djajakirana, G., & Darmawan. 2021. Characteristic Observation of Cordyceps militaris Wild Type Strain from Five Oil Palm Plantations in Muara Wahau, East Borneo.

Glover, J.P., Nufer, M.I., Perera, O.P., Portilla, M., & George, J. 2023. Entomopathogenicity of Ascomycete Fungus Cordyceps militaris on the Cotton Bollworm, Helicoverpa zea (Lepidoptera: Noctuidae). Journal of Fungi, 9(6):614.

Mongkolsamrit, S., Noisripoom, W., Thanakitpipattana, D., et al. 2021. Effects of Cordycepin in Cordycepsmilitaris During Its Infection to Silkworm Larvae. Microorganisms, 9(4):681.

Pahan, I. 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya.

Shrestha, B., Zhang, W., Zhang, Y., & Liu, X. 2012. The Medicinal Fungus Cordyceps militaris: Research and Development. Mycological Progress.

Wood, B.J. 2002. Pest Control in Malaysia's Perennial Crops: A Half Century Perspective Tracking the Path to Integrated Pest Management. Integrated Pest Management Reviews, 7:173–190.

Zimmermann, G. 2007. Review on Safety of Entomopathogenic Fungi and Their Use in Biological Control. Biocontrol Science and Technology, 17(6):553–596.



 

Share

Other News

PEMETAAN KANDUNGAN PIRIT DALAM TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
CANTIK NAMUN BERBAHAYA, ULAT PEMAKAN DAUN KELAPA SAWIT (UPDKS)