DINAMIKA ANALISIS LABORATORIUM FOSFOR PADA TANAH, DAUN, DAN PUPUK: INTEGRASI ASPEK AGRONOMIS DAN STRATEGI OPTIMASI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 5 June 2026 15:06

DINAMIKA ANALISIS LABORATORIUM FOSFOR PADA TANAH, DAUN, DAN PUPUK: INTEGRASI ASPEK AGRONOMIS DAN STRATEGI OPTIMASI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

DINAMIKA ANALISIS LABORATORIUM FOSFOR PADA TANAH, DAUN, DAN PUPUK: INTEGRASI ASPEK AGRONOMIS DAN STRATEGI OPTIMASI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT(Elaeis guineensis Jacq.)

 

                                                                 Hiras P. Sibuea, Muhammad Ahan K, Michael

 


 

  Keberhasilan pengelolaan hara kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh ketersediaan fosfor (P) yang berperan dalam transformasi energi dan pembentukan buah. Artikel ini membahas integrasi analisis fosfor pada tanah, daun, dan pupuk sebagai dasar pengelolaan hara presisi. Analisis tanah meliputi pengukuran P-tersedia dengan metode Bray II atau Olsen serta P-cadangan melalui ekstraksi HCl 25%. Analisis daun pada pelepah ke-17 digunakan untuk mengevaluasi status hara tanaman dengan kadar kritis 0,15%–0,18% sebagai acuan pemupukan. Selain itu, dibahas hubungan kecukupan fosfor dengan peningkatan bobot janjangan dan hasil panen, serta strategi optimasi pemupukan berbasis data laboratorium. Integrasi ketiga parameter tersebut mendukung penyusunan rekomendasi pemupukan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) secara berkelanjutan.

 

1. Pendahuluan

Fosfor merupakan unsur hara makro primer yang berperan penting dalam pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit. Unsur ini berfungsi dalam penyimpanan dan transfer energi melalui pembentukan Adenosin Trifosfat (ATP), serta terlibat dalam sintesis asam nukleat (DNA/RNA), perkembangan sistem perakaran, dan pembentukan buah (Fajri, 2024). Ketersediaan fosfor di dalam tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama reaksi tanah. Pada tanah masam seperti Ultisol dan Oxisol, fosfor mudah terfiksasi oleh aluminium (Al) dan besi (Fe), sehingga menurunkan ketersediaannya bagi tanaman (Purba, 2022). Oleh karena itu, analisis laboratorium yang akurat pada tanah, daun, dan pupuk diperlukan untuk mengevaluasi status fosfor sebagai dasar ilmiah dalam menentukan efisiensi pemupukan.

 

2. Metodologi Analisis Laboratorium Fosfor

2.1 Analisis Fosfor dalam Tanah (Soil Sampling)

  Analisis tanah bertujuan untuk mengevaluasi status fosfor melalui dua indikator utama:

  P-Tersedia (Available P) merupakan fraksi fosfor yang dapat diserap oleh akar tanaman dalam jangka pendek (Kholifah dkk., 2025). Penentuan P-tersedia umumnya dilakukan menggunakan metode Bray II atau Olsen, yang dipilih berdasarkan kondisi pH tanah. Metode Bray II: Menggunakan ekstraktan NH₄F 0,03 N dan HCl 0,1 N, sehingga efektif untuk tanah masam (pH < 5,5) karena mampu melepaskan fosfor yang terikat oleh Al dan Fe. Sementara itu, metode Olsen menggunakan larutan NaHCO₃ 0,5 M pada pH 8,5 dan lebih sesuai untuk tanah netral hingga alkalis, termasuk tanah pesisir, karena mampu mengekstrak fosfor yang terikat oleh kalsium (Ca) (Kholifah dkk., 2025; Umaternate dkk., 2014).

  P-Cadangan (Potential P) menggambarkan cadangan fosfor anorganik dalam tanah yang berpotensi tersedia bagi tanaman dalam jangka panjang melalui proses pelapukan dan transformasi alami. Pengukurannya umumnya dilakukan menggunakan metode ekstraksi HCl 25% yang mampu melepaskan  fosfor yang terikat kuat pada mineral tanah (Nugraha dkk., 2015).

  Perbedaan utama antara kedua parameter tersebut terletak pada cakupan fraksi fosfor yang diukur. P-tersedia menunjukkan fosfor yang dapat dimanfaatkan tanaman dalam waktu relatif singkat, sedangkan P-cadangan menggambarkan potensi pasokan fosfor tanah dalam jangka panjang.

 

Gambar 1. Analisa P-Cadangan dengan metode spektrofotometri.

 

2.2 Analisis Fosfor dalam Daun (Leaf Sampling)

  Analisis daun dianggap sebagai indikator terbaik status hara tanaman karena mencerminkan unsur hara yang telah diserap dan dimanfaatkan oleh tanaman (Waluyo & Suprihatin, 2015). Pada kelapa sawit, sampel standar diambil dari pelepah ke-17 (Fajri, 2024). Analisis laboratorium meliputi tahap pengeringan, penggilingan, dan destruksi basah, kemudian kadar fosfor ditentukan secara spektrofotometri. Pada tanaman kelapa sawit dewasa, kadar fosfor kritis berada pada kisaran 0,15%–0,18% (Waluyo & Suprihatin, 2015).

  Hasil analisis daun memiliki hubungan positif yang nyata dengan respons tanaman. Kadar fosfor yang rendah dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil produksi (Goh, 2003). Oleh karena itu, analisis daun digunakan sebagai alat diagnostik utama untuk menentukan kecukupan hara dan menyusun rekomendasi pemupukan. Dalam sistem rekomendasi seperti French System, analisis daun dijadikan pedoman utama pemupukan (Goh, 2003). Kadar fosfor daun di bawah batas kritis 0,15% mengindikasikan terjadinya defisiensi fosfor sehingga diperlukan tindakan korektif melalui penyesuaian dosis pemupukan segera.

 

Gambar 2. Pengambilan sampel pelepah ke-17 (Sugianto dkk., 2023).

 

2.3 Analisis Fosfor dalam Pupuk

  Analisis pupuk dilakukan untuk memastikan mutu pupuk sesuai dengan standar yang berlaku, termasuk Standar Nasional Indonesia (Hitori, 2017). Parameter yang umum dianalisis meliputi kadar fosfor total, fosfor larut asam sitrat 2% (hara tersedia jangka menengah), dan fosfor larut air. Sumber fosfor yang umum digunakan pada perkebunan kelapa sawit meliputi pupuk Rock Phosphate (RP), SP-36, dan Triple Super Phosphate (TSP). Dalam pengelolaan hara, pemupukan presisi mengacu pada prinsip 5T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, dan tepat tempat (Sinaga dkk., 2024). Analisis laboratorium berperan penting dalam memastikan kandungan hara dan dosis pupuk yang diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Ketidaksesuaian antara kandungan hara aktual dan spesifikasi produk dapat menyebabkan penyimpangan dosis pemupukan serta menurunkan efisiensi penggunaan pupuk (Hitori, 2017). Penggunaan pupuk fosfor yang memenuhi standar mutu merupakan faktor penting dalam memastikan efektivitas dosis pemupukan yang telah ditetapkan.

 

3. Hubungan Agronomis dan Hara Fosfor terhadap Produksi Buah

 

3.1 Dinamika Fosfor: Dari Tanah ke Tanaman

  Fosfor merupakan unsur hara dengan mobilitas rendah di dalam tanah dan diserap oleh tanaman terutama dalam bentuk ion ortofosfat (H₂PO₄⁻ dan HPO₄²⁻) melalui proses difusi.  Pada kondisi sangat masam (pH < 4,5), fosfor mudah terfiksasi oleh Al dan Fe membentuk senyawa sukar larut, sehingga tanaman tetap dapat mengalami defisiensi meskipun telah dipupuk (Purba, 2022). Penambahan bahan organik, seperti janjangan kosong, dapat meningkatkan ketersediaan fosfor melalui pembentukan kompleks organik yang mengurangi ikatan fosfor dengan oksida Al dan Fe.

 

3.2 Hubungan Fosfor terhadap Produksi Buah

Fosfor berdampak langsung pada komponen hasil panen melalui beberapa mekanisme:

•Produktivitas Reproduktif: Fosfor mempercepat proses pembungaan dan meningkatkan keberhasilan pembentukan buah (fruit set)  (Fajri, 2024).

•Bobot Janjangan: Kadar fosfor daun menunjukkan hubungan positif dengan berat rata-rata janjang. Status fosfor yang optimum (0,17%–0,18%) berkorelasi dengan potensi produksi TBS sebesar 26–32 ton/ha/tahun (Waluyo & Suprihatin, 2015).

•Kematangan Buah: Kecukupan fosfor mempercepat proses pemasakan buah dan perkembangan biji sehingga berkontribusi terhadap kualitas hasil panen.

 

3.3 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Fosfor

•Kekurangan : Tanaman menjadi kerdil, pelepah memendek, dan diameter batang meruncing ke atas. Produksi TBS menurun drastis akibat keterlambatan kemasakan buah dan penurunan jumlah tandan (Purba, 2022; Waluyo & Suprihatin, 2015).

•Kelebihan: Dapat menghambat penyerapan mikrohara seperti Seng (Zn), Besi (Fe), dan Tembaga (Cu). Selain itu, limpasan fosfor berlebih berisiko mencemari lingkungan melalui eutrofikasi (Kholifah dkk., 2025).

 

4. Strategi Optimasi Hara Fosfor Berbasis Laboratorium

  Manajemen fosfor yang presisi tidak hanya meningkatkan hasil, tetapi juga mengoptimalkan biaya operasional melalui strategi berbasis data:

  Sistem Rekomendasi Terpadu: Data analisis tanah (Soil Sampling Unit; SSU) dan daun (Leaf Sampling Unit; LSU) dapat diintegrasikan ke dalam sistem rekomendasi pemupukan, seperti Integrated Fertilizer Recommendation System (INFERS) yang menghitung keseimbangan hara berdasarkan demand tanaman dikurangi supply tanah (Goh, 2003).

  Sinergi Nitrogen-Fosfor (N-P): Serapan fosfor meningkat seiring peningkatan serapan N. Menjaga ketersediaan fosfor tetap optimal adalah kunci untuk memaksimalkan efisiensi pupuk nitrogen yang secara harga lebih mahal dari pada pupuk fosfor. Jika kebutuhan fosfor tanaman tidak tercukupi, respons tanaman terhadap pupuk nitrogen akan sangat terbatas (Fajri, 2024).

  Koreksi pH Tanah: Hasil analisis tanah yang menunjukkan kondisi pH sangat masam atau alkalis perlu ditindaklanjuti melalui tindakan korektif, seperti pengapuran atau penambahan bahan organik. Upaya ini bertujuan meningkatkan ketersediaan fosfor serta mengurangi risiko fiksasi hara setelah aplikasi pupuk (Purba, 2022).

 

5. Kesimpulan

  Pengelolaan hara fosfor yang presisi memerlukan integrasi analisis tanah, daun, dan pupuk. Analisis tanah mengevaluasi ketersediaan fosfor, analisis pupuk menjamin mutu sumber hara, sedangkan analisis daun mencerminkan status hara aktual tanaman. Integrasi ketiga analisis tersebut mendukung optimasi pengelolaan fosfor untuk memaksimalkan produksi TBS sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pengelolaan hara yang terukur.

 

6. Daftar Pustaka

  1. Fajri, R. (2024). Kecukupan Nitrogen Dan Fosfor Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Desa Sekapas Kabupaten Rokan Hilir. Skripsi, UIN Suska Riau.
  2. Goh, K. J. (2003). Fertilizer Recommendation Systems for Oil Palm: Estimating the Fertilizer Rates. Applied Agricultural Research (AAR).
  3. Hitori, M. (2017). Identifikasi Kadar P2O5 Total Pada Beberapa Pupuk Fosfor Di Malang. Skripsi, Universitas Brawijaya.
  4. Kholifah, A. N., Pawestri, N., & Utami, M. (2025). Determination of Available Phosphorus in Soil Samples Using Olsen & Bray I Method. Indonesian Journal of Chemical Research, 10(2), 23-37.
  5. Nugraha, M. Q., Supriadi, & Sabrina, T. (2015). Survei Pemetaan P-Potensial Dan P-Tersedia Terhadap Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guinensis Jacq.) Di Perkebunan Pt. Buana Estate Kabupaten Langkat. Jurnal Online Agroekoteknologi, 3(4), 1309-1319.
  6. Purba, H. P. (2022). Kandungan P-Tersedia Pada Berbagai Kondisi Lahan Di Perkebunan Kelapa Sawit. Skripsi, Universitas Batanghari Jambi.
  7. Sinaga, F., Sopandie, D., & Santosa, E. (2024). Pengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit di Kebun Aek Nabara, Sumatera Utara. Journal IPB, 12(3).
  8. Sugianto, H., Monzon, J. P., Pradiko, I., Tenorio, F. A., Lim, Y. L., Donough, C. R., Sunawan, Rahutomo, S., Agus, F., Cock, J., Amsar, J., Farrasati, R., Iskandar, R., Rattalino Edreira, J. I., Saleh, S., Santoso, H., Tito, A. P., Ulfaria, N., Slingerland, M. A., & Grassini, P. (2023). First things first: Widespread nutrient deficiencies limit yields in smallholder oil palm fields. Agricultural Systems, 210, 103709.
  9. Umaternate, G. R., Abidjulu, J., & Wuntu, A. D. (2014). Uji Metode Olsen dan Bray dalam Menganalisis Kandungan Fosfat Tersedia pada Tanah Sawah. Jurnal MIPA UNSRAT, 3(1), 6-10.
  10. Waluyo & Suprihatin, A. (2015). Kadar Kritikal Hara Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan Di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Nasional Swasembada Pangan, 343-347.

 

Share

Other News