PEMETAAN KANDUNGAN PIRIT DALAM TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 18 June 2026 07:34
PEMETAAN KANDUNGAN PIRIT DALAM TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
Dibuat Oleh: Yanto Manik
Pirit (FeS₂) merupakan mineral sulfida yang banyak ditemukan pada tanah rawa, lahan pasang surut, dan sedimen marin. Keberadaan pirit dalam tanah dapat memengaruhi kualitas lahan karena proses oksidasi pirit menghasilkan asam sulfat yang menyebabkan tanah menjadi sangat masam. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran kandungan pirit dalam tanah menggunakan metode survei lapangan, analisis laboratorium, dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pengambilan sampel dilakukan pada beberapa titik pengamatan yang ditentukan secara sistematis. Kandungan pirit dianalisis di laboratorium menggunakan metode ekstraksi sulfur dan identifikasi mineral sulfida. Data hasil analisis kemudian diolah menggunakan interpolasi spasial untuk menghasilkan peta sebaran kandungan pirit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan pirit bervariasi dari rendah hingga tinggi dengan pola sebaran yang dipengaruhi oleh kondisi geomorfologi, kedalaman tanah, dan sistem drainase. Peta yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan lahan dan perencanaan penggunaan lahan secara berkelanjutan.
Kata kunci: pirit, tanah sulfat masam, pemetaan, SIG, interpolasi spasial.
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pirit (FeS₂) merupakan mineral sulfida besi yang terbentuk pada lingkungan anaerob dan banyak ditemukan pada tanah rawa, tanah pasang surut, serta sedimen laut. Dalam kondisi terendam, pirit relatif stabil. Namun, ketika tanah mengalami pengeringan atau pembukaan lahan, pirit dapat teroksidasi sehingga menghasilkan asam sulfat yang menyebabkan penurunan pH tanah secara drastis.
Keberadaan pirit menjadi salah satu faktor pembatas utama dalam pemanfaatan lahan rawa untuk kegiatan pertanian. Oleh karena itu, informasi mengenai distribusi dan kandungan pirit dalam tanah sangat diperlukan sebagai dasar pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) memungkinkan penyajian data kandungan pirit secara spasial sehingga memudahkan pengambilan keputusan.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana distribusi kandungan pirit pada wilayah penelitian?
- Bagaimana pola sebaran kandungan pirit berdasarkan kondisi lahan?
- Bagaimana pemanfaatan SIG dalam pemetaan kandungan pirit tanah?
1.3 Tujuan Penelitian
- Mengidentifikasi kandungan pirit pada beberapa titik sampel tanah.
- Memetakan distribusi spasial kandungan pirit.
- Menganalisis hubungan kandungan pirit dengan kondisi lingkungan lahan.
1.4 Manfaat Penelitian
- Menyediakan informasi spasial kandungan pirit.
- Mendukung perencanaan penggunaan lahan.
- Menjadi dasar pengelolaan tanah sulfat masam.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pirit dalam Tanah
Pirit merupakan mineral sulfida dengan rumus kimia FeS₂ yang terbentuk melalui proses reduksi sulfat oleh bakteri anaerob. Mineral ini banyak ditemukan pada tanah sulfat masam potensial.
Reaksi oksidasi pirit:
4FeS2+15O2+14H2O→4Fe(OH)3+8H2SO44FeS_2 + 15O_2 + 14H_2O \rightarrow 4Fe(OH)_3 + 8H_2SO_44FeS2+15O2+14H2O→4Fe(OH)3+8H2SO4
Reaksi tersebut menghasilkan asam sulfat yang dapat menurunkan pH tanah hingga di bawah 4.
2.2 Tanah Sulfat Masam
Tanah sulfat masam adalah tanah yang mengandung bahan sulfidik yang apabila teroksidasi menghasilkan keasaman tinggi. Tanah ini banyak ditemukan pada lahan rawa pasang surut dan daerah pesisir.
2.3 Sistem Informasi Geografis (SIG)
SIG merupakan sistem yang digunakan untuk mengumpulkan, mengelola, menganalisis, dan menampilkan data spasial. Dalam penelitian tanah, SIG digunakan untuk menghasilkan peta distribusi parameter tanah secara digital.
2.4 Interpolasi Spasial
Interpolasi merupakan metode untuk memperkirakan nilai pada lokasi yang tidak disampling berdasarkan titik sampel yang tersedia. Metode yang umum digunakan adalah:
- Inverse Distance Weighting (IDW)
- Kriging
- Spline



