SEKAT AIR SEBAGAI UPAYA MENJAGA DAN RESTORASI EKOSISTEM GAMBUT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 16 July 2026 09:43
SEKAT AIR SEBAGAI UPAYA MENJAGA DAN RESTORASI EKOSISTEM GAMBUT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
M Golbi Darwis, Benny Fajar Mufid, dan Fhadli Nizam Pratama,
Gambut merupakan sebuah jenis tanah yang terbentuk dari hasil akumulasi sisa-sisa tumbuhan setengah membusuk yang tertimbun dalam masa ratusan hingga ribuan tahun dalam kondisi anaerobik lahan basah dan asam dengan komposisi dari hasil pencampuran dari batang pohon, akar, lumut, dan sisa-sisa hewan. Secara umum, lahan gambut dunia memiliki luas sebanyak 420 juta hektar dengan cakupan pada areal tropis seluas 30-45 juta hektar. Sebaran lahan gambut juga tersebar khususnya di tiga pulau besar di Indonesia yaitu Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, dan Pulau Papua. Menurut ritung et al (seperti dikutip dalam Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2016) menyatakan bahwa tiga pulau besar di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua) memiliki lahan gambut seluas 14,9 juta hektar dan belum termasuk lahan gambut yang terletak di pulau lainnya.
Lahan gambut berpotensi memiliki nilai ekonomis maupun sosial pada pertanian maupun perkebunan khususnya pada perkebunan kelapa sawit. Pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan/pertanian umumnya berada pada areal dengan kedalaman gambut dangkal (50 - 100 cm) sampai gambut sedang (200 – 300 cm). Dalam proses pemanfaatan lahan gambut, diperlukan tata pengelolaan air yang baik dengan membangun jaringan drainase yang cukup serta sarana dan infrastruktur untuk membasahi lahan gambut. Selain potensi kebermanfaatan lahan, gambut memiliki sifat rapuh sehingga apabila mengalami kerusakan atau terdegradasi, lahan gambut sulit kembali ke kondisi semula. Degradasi lahan tersebut terjadi akibat berkurangnya kualitas tanah gambut baik dari sisi fisik, kimia, biologi, serta fungsi hidrologisnya (Nusantara et al 2023). Kerusakan ekosistem gambut dapat dilihat secara visual dengan melihat penurunan tanah (subsidence peat) maupun penurunan muka air. Muka air gambut yang mengalami penurunan akan berdampak pada proses oksidasi atau peningkatan kandungan oksigen, terjadinya proses penurunan lahan, dan potensi kebakaran lahan akibat kekeringan (Yulismawati et al 2021)
Kerusakan lahan gambut umumnya terjadi akibat proses pembuatan drainase secara berlebihan sehingga menghilangkan sifat spons pada lahan gambut. Sifat spons pada lahan gambut berfungsi sebagai tempat penyimpanan air pada lahan. Upaya meminimalisir terjadinya kerusakan lahan gambut, diperlukan pembangunan infrastruktur air seperti sekat air untuk membantu membasahi lahan sehingga meminimalisir terjadinya resiko kerusakan.

Gambar 1 Sarana infrastruktur terpadu dalam proses pembasahan gambut
Sekat air merupakan salah satu langkah dan upaya dalam menjaga level permukaan air pada lahan gambut. Umumnya penjagaan muka air pada perkebunan kelapa sawit pada areal gambut berada pada 40 - 60 cm dibawah permukaan lahan. Penjagaan muka air pada batas tersebut membantu akar tanaman sawit tumbuh dan berfotosintesis secara optimal. Sekat air memiliki berbagai macam jenis dan variasi baik dari segi desain struktur, bahan, dan teknik konstruksinya Utami et al 2025).

Gambar 2 Sekat air sebagai penahan muka air lahan
Perencanaan pembangunan sekat diperlukan penelitian tanah secara dasar yaitu dengan melihat sifat fisik dan kimia tanah agar pembangunan sekat dapat bertahan lebih lama dan berfungsi dengan baik (Triadi 2020). Berdasarkan jenisnya sekat air dibagi menjadi 3 tipe yaitu, sekat air sementara, sekat air semi permanen, sekat air permanen. Masing-masing tipe sekat air memiliki masa pakai (lifetime) yang berbeda.
A. Sekat Air Sementara
Sekat air sementara merupakan salah satu jenis sekat air yang menggunakan murni tanah sebagai bahan utamanya, proses pembuatannya memerlukan alat berat dalam proses penggalian dan penimbunannya. Sekat air ini berfungsi sebagai langkah mitigasi awal dalam pencegahan kekeringan pada areal lahan, namun pada sekar air sementara memiliki kekurangan yaitu memiliki resiko erosi lebih tinggi karena hanya mengandalkan material tanah saja. Daya tahan/masa pakai sekat air sementara umumnya hanya dengan masa durasi pendek.

Gambar 3 Contoh sekat air sementara menggunakan material tanah
B. Sekat Air Semi-permanen
Sekat air semi permanen merupakan salah satu bentuk upaya penahanan air menggunakan material kayu sebagai pondasi. Material kayu yang digunakan harus memiliki ketahanan terhadap air dan keasaaman tinggi seperti kayu gelam, pelawan, resak, rengas, dan kayu lainnya. Struktur sekat air ini harus dikombinasikan dengan karung berisi tanah agar daya tahan dapat bertahan 2-5 tahun dengan perawatan. Selain menggunakan kayu sebagai pondasi, penggunaan batu juga dapat dijadikan salah satu pondasi dalam membangun sekat air semi-permanen.

Gambar 4 Contoh sekat air semi-permanen
Pembuatan sekat air menggunakan batu bronjong harus dilakukan dengan cara menumpuk kemudian diikat dan dibungkus menggunaka kawat sesuai dengan kebutuhan sekat dan dilapisi dengan geotextile untuk mencegah rembesan air pada celah-celah batu.
C. Sekat Air Permanen
Sekat air permanen merupakan upaya penahanan muka air gambut dengan menggunakan beton berstruktur maupun kayu dengan lapisan yang lebih banyak, tipe sekat air permanen juga membutuhkan biaya yang tinggi daripada tipe lainnya tetapi memiliki daya tahan (lifetime) yang lebih lama.

Gambar 5 Contoh sekat air permanen dengan menggunakan material beton berstruktur
KESIMPULAN
Gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk berdasarkan akumulasi sampah-sampah organik dalam periode waktu yang lama. Luas lahan gambut tersebar di seluruh dunia seluas 420 juta hektar, dimana pulau besar di Indonesia seluas 14.9 juta hektar. Lahan gambut yang tidak terkelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan ekosistem yang sulit untuk dikembalikan ke kondisi awal akibat terjadinya penurunan tanah, kekeringan, dan penurunan muka air. Upaya meminimalisir terjadinya kerusakan ekosistem gambut, perlu dilakukan pembasahan kembali dengan membangun infrastruktur air termasuk sekat air. Terdapat 3 tipe sekat air yaitu sekat air sementara, sekat air semi-permanen, dan sekat air permanen. Tipe sekat air tersebut juga berpengaruh pada daya tahan (lifetime) dan biaya pembangunan sekat air.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Peneliti dan Pengembangan Pertanian. 2016. Lahan Gambut Indonesia : Pembentukan, Karakteristik, dan Potensi Mendukung Ketahanan Pangan (Edisi revisi ke ii). IAARD Press : Jakarta.
Nusantara RW, Manurung R, Lestari U, dan Padagi S. 2023. Dampak sekat kanal terhadap fluktuasi muka air tanah pada lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya – Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan vol. 21(2): 393-402
Triadi LB. 2020. Restorasi lahan rawa gambut melalui metode pembasahan (sekat kanal) dan padikultur. Jurnal Sumber Daya Air vol. 16(2):103-118
Utami FD, Purnomo DA, dan Sujatmiko H. 2025. Evaluasi efektifitas infrastruktur pembasahan gambut (IPG) berupa sekat kanal untuk optimalisasi pembasahan lahan gambut (Studi kasus: Kelurahan Teluk Makmur, Kota Dumai). INNOVATIVE : Journal of Social Research vol. 5(3):7558-7575
Yulismawati R, Olivia M, Saputra E. 2021. Durabilitas beton sekat kanal terpapar air gambut dan air laut. Jurnal Teknik vol. 15(2):137-147
