GROUND MANAGEMENT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 12 May 2026 07:11

GROUND MANAGEMENT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

                                               GROUND MANAGEMENT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

                                 Penyusunan Pelepah U-Shape | Pemupukan Berbasis Zona | Pengelolaan Softweed

                       Bakrie Agronomy Research and Innovation - Bakrie Sumatera Plantations Tbk | Program Yield Improvement

 

                                                                                        Khairuddin, Aziz Kirom Siregar, M. Oki Setiawan

 

  Abstrak: Ground management merupakan fondasi produktivitas berkelanjutan perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Artikel ini merangkum tiga pilar utama ground management: (1) penyusunan pelepah sistem U-Shape untuk optimasi pemanfaatan bahan organik dan distribusi akar; (2) pemupukan presisi berbasis zonasi dan umur tanaman; serta (3) pemeliharaan softweed sebagai komponen keseimbangan ekologis. Bukti ilmiah dari percobaan dan literatur mengkonfirmasi bahwa zona rumpukan pelepah memiliki C-organik, KTK, dan populasi mikroba signifikan lebih tinggi; pemeliharaan softweed menggemburkan tanah dari kepadatan >2 MPa menjadi 1 MPa; menekan N leaching dan meningkatkan produksi.

Kata kunci: ground management, kelapa sawit, U-Shape, pemupukan zona, softweed, bahan organik tanah

 

■ 1. PENDAHULUAN

  Kelapa sawit merupakan komoditas strategis dengan produktivitas minyak tertinggi per satuan luas. Tekanan intensifikasi tanpa perluasan lahan menjadikan ground management (pengelolaan lahan bawah tajuk) sebagai kunci peningkatan produktivitas berkelanjutan. Ground management adalah salah satu upaya memperbaiki kesehatan dan keseimbangan ekologis tanah yang mengintegrasikan tiga pilar: penyusunan pelepah U-Shape, pemupukan presisi, dan pengelolaan softweed.

 

■ 2. TIGA PILAR GROUND MANAGEMENT SISTEM U-SHAPE

Tabel 1. Ringkasan Tiga Pilar Ground Management dan Dasar Ilmiahnya

 

KomponenSpesifikasi TeknisDasar Ilmiah
Penyusunan Pelepah UShapeRumpukan antar pokok 2,5–3 m; piringan bebas gulma1,5–2 m; jalur hijau 1–2 m; pelepah dipotong 2-3 bagian; diberi pancangZona rumpukan pelepah memiliki Corganik, KTK, dan biomassa mikroba tertinggi (p ≤ 0,05); densitas akar terpusat di bawah rumpukan (Stiegler et al., 2021)
Pemupukan Berbasis ZonaPupuk Makro (N,P,K,Mg) : dirumpukan sebelah luar (umur >5 thn); piringan (umur<5 thn). Pupuk Mikro (B, Cu, Zn): 20–50 cm dari batang semua umur.Akar aktif terkonsentrasi di zona rumpukan; bahan organik mencegah leaching; kadar air tanah berpengaruh kuat pada TBS (R²=0,861)
Pemeliharaan SoftweedNephrolepis biserrata, Asystasia gangetica, Borreria spp. dipertahankan di jalur hijau; semprot selektif, dilarang blanketAreal softweed: tanah gembur kekerasan 1 MPa vs tanpa softweed kekerasan > 2 MPa (perkembangan akar terhambat); meningkatkan populasi Rhizobium hingga 49 kali (Asbur et al., 2018)

Sumber: BARI (2025); Stiegler et al. (2021); Forster et al. (2020); Asbur et al. (2018)

 

2.1 Penyusunan Pelepah U-Shape

 

  Setiap pohon menghasilkan 20–24 pelepah/tahun (~35,7 t ha⁻¹ th⁻¹ segar). Stiegler et al. (2021) membuktikan zona rumpukan pelepah (frond-stacked area) memiliki biomassa mikroba sebagai penggerak utama siklus N dengan korelasi r = 0,93–0,95 (p < 0,01). Dekomposisi pelepah berlangsung 35% lebih cepat di zona ini dengan waktu paruh 16–32 minggu (Satriawan et al., 2025). Hasil penelitian team BARI menunjukkan berat akar di bawah rumpukan mencapai 232,87 g vs rata-rata 94–140 g di zona lain, dengan Corganik dan KTK yang secara konsisten lebih tinggi (Petak 6, 7, 8).

 

  Spesifikasi teknis: Piringan bebas gulma 1,5–2 m; rumpukan antar pokok 2,5–3 m; jalur hijau 1–2 m; pelepah dipotong 3 bagian dengan pangkal menghadap gawangan mati; diberi pancang pembatas; rotasi peletakan mengikuti siklus panen.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2 Pemupukan Berbasis Zona dan Umur Tanaman

 

  Tiga dasar ilmiah mendasari penempatan pupuk di zona sekitar rumpukan: (i) akar aktif terkonsentrasi di zona ini; (ii) bahan organik meningkatkan KTK sehingga hara tidak tercuci; (iii) kelembaban yang stabil melarutkan dan mengaktifkan hara (R² kadar air–TBS = 0,861). Bahan organik juga terbukti berkorelasi sangat kuat dengan persebaran akar (R² = 0,9964). Bahkan Forster et al. (2019) melaporkan pengurangan dosis pupuk yang diimbangi pengembalian biomassa pelepah tidak menurunkan yield secara signifikan.

 

Ringkasan Strategi Pemupukan:

• Awal tanam – 1 bulan: pupuk RP dan CRF di lubang tanam.

 • 2 bulan – 5 tahun: pupuk makro (N,P,K,Mg) di piringan bawah kanopi.

• Di atas 5 tahun: pupuk makro di luar rumpukan pelepah (U-Shape).

• Semua umur: pupuk mikro (B,Cu,Zn) di piringan 20–50 cm dari pangkal batang.

 

 

 

 

 

 

2.3 Pengelolaan Softweed (Nephrolepis – Asystasia – Borreria)

 

  Softweed adalah vegetasi penutup tanah lunak yang memberikan manfaat ekologis berlapis. Bukti pengukuran langsung dengan Penetrologger menunjukkan perbedaan dramatis: tanah bersoftweed memiliki kekerasan 1 MPa, sedangkan tanpa softweed >2 MPa—melampaui ambang batas penghambatan pertumbuhan akar. Selain itu, N. biserrata terbukti meningkatkan stok karbon tanah 68– 128% dan mengandung total biomassa 6.530 kg ha⁻¹ dengan serapan hara K mencapai 227 kg ha⁻¹ (Satriawan et al., 2021). Selain itu, daun dan bagian dari softweed yang mati dan gugur akan mejadi input bahan organik bagi tanah.

 

 

 

Tabel 2. Perbandingan Parameter Tanah: Dengan vs Tanpa Softweed

 

ParameterTanpa SoftweedDengan SoftweedSumber
Kekerasan tanah>2 MPa (hambat akar)1 MPa (optimal)BARI (2025)
Populasi Rhizobium1,5×10³ CFU g⁻¹7,4×10⁴ CFU g⁻¹Asbur et al. (2018)
Total respirasi tanah1,1×10⁴ mg CO₂ m⁻²jam⁻¹2,9×10⁴ mg CO₂ m⁻²jam⁻¹Asbur et al. (2018)
Stok karbon tanahRendah (baseline)+68–128% (N. biserrata)Satriawan et al. (2021)
N leaching74±20 kg N ha⁻¹ thn⁻¹32±6 kg N ha⁻¹ thn⁻¹Forster et al. (2020)

Sumber: BARI (2025); Asbur et al. (2018); Satriawan et al. (2021); Forster et al. (2020)

 

 Pemeliharaan softweed juga meningkatkan populasi mikroba tanah yang esensial: Rhizobium (fiksasi N), Trichoderma (antagonis Ganoderma), Aspergillus, dan Mikoriza. Total respirasi tanah—indikator aktivitas biologi— meningkat 2,6× lipat pada areal bersoftweed. Larangan semprot blanket memiliki justifikasi kuat: Forster et al. (2020) membuktikan herbisida blanket meningkatkan N leaching hingga 2,3× lipat dibanding weeding selektif.

 

■ 3. SINERGI SISTEM DAN SIKLUS POSITIF

  Kekuatan sistem U-Shape terletak pada sinergi antar komponen yang membentuk siklus positif: rumpukan pelepah → hotspot/centralisasi bahan organik dan mikroba → akar aktif terkonsentrasi → pupuk diserap efisien → produksi TBS tinggi → lebih banyak biomassa pelepah kembali ke tanah → softweed terjaga → tanah semakin gembur dan lembab. Sistem ini merefleksikan pendekatan precision farming yang mengintegrasikan agronomi, ekologi tanah, dan efisiensi input secara holistik.

 

■ 4. KESIMPULAN

• Zona rumpukan pelepah U-Shape adalah hotspot kesuburan tanah dengan C-organik, KTK, dan akar aktif tertinggi dalam ekosistem kebun.

• Pemupukan tepat zona—di samping rumpukan untuk tanaman >5 tahun—memaksimalkan efisiensi serapan hara dan meminimalkan leaching.

• Softweed adalah komponen ekologis tak tergantikan, menjaga kelembaban, mencegah pemadatan, meningkatkan mikroba, dan menyumbang bahan organik.

• Larangan blanket spraying didukung bukti ilmiah kuat, herbisida blanket merusak komunitas softweed, memadatkan tanah, dan meningkatkan kehilangan hara.

 

■ DAFTAR PUSTAKA

 

Asbur, Y., et al. 2018. Growth and nutrient balance of Asystasia gangetica as cover crop for mature oil palm plantations. Chilean J. Agric. Res., 78: 486–494.

 

BARI. 2025. Work Instruction System U-Shape: Penyusunan Pelepah, Pemupukan dan Menjaga Softweed. Bakrie Sumatera Plantation Tbk.

 

Drescher, J., et al. 2016. Ecological and socio-economic functions across tropical land use systems after rainforest conversion. Phil. Trans. R. Soc. B, 371: 20150275.

 

Forster, D., et al. 2019. Reducing Fertilizer and Avoiding Herbicides in Oil Palm Plantations. Front. Forests Global Change, 2: 65.

 

Forster, D., et al. 2020. Herbicide weed control increases nutrient leaching compared to mechanical weeding in a largescale oil palm plantation. Biogeosciences, 17: 5243–5262.

 

Hood, A.S., et al. 2018. Understory Vegetation in Oil Palm Plantations Benefits Soil Biodiversity and Decomposition Rates. Front. Forests Global Change, 1: 10.

 

Satriawan, H., et al. 2021. The potential of Nephrolepis biserrata fern as ground cover vegetation in oil palm plantation. Biodiversitas, 22(10): 4500–4510.

 

Satriawan, H., et al. 2025. Oil palm frond decomposition and soil carbon stocks in response to fertilization regime and management zones. J. Degraded Mining Lands Mgmt., 13(1).

 

Stiegler, C., et al. 2021. Mulching with pruned fronds promotes the internal soil N cycling and soil fertility in a large-scale oil palm plantation. Biogeochemistry, 155: 163–180.

 

Tarigan, R., Wahyono, T., Widjaja, S. 2015. Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik dan kimia tanah pada perkebunan kelapa sawit. J. Pen. Kelapa Sawit, 23(2): 87–98. 
 

Share

Other News

PENGUATAN TANGGUL BERPASIR DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Pengenalan Sistem Informasi Geografis (GIS)
PENGARUH pH TANAH TERHADAP KESUBURAN TANAMAN