WATER MANAGEMENT : KUNCI UTAMA PELESTARIAN EKOSISTEM GAMBUT PADA TANAMAN KELAPA SAWIT
Admin BARI (Bakrie Agriculture Research Institute) | 30 March 2026 15:36
WATER MANAGEMENT : KUNCI UTAMA PELESTARIAN EKOSISTEM GAMBUT PADA TANAMAN KELAPA SAWIT
M Golbi Darwis, Benny Fajar Mufid, Ferdinan Siburian, dan Fhadli Nizam Pratama
Ekosistem gambut merupakan salah satu aset alam yang berharga di dunia, terutama dalam konteks penyimpanan karbon dan pengaturan hidrologi. Pembentukan gambut terdiri dari akumulasi sisa tanaman yang membusuk secara tidak sempurna dalam kondisi tergenang dalam periode waktu yang lama sehingga membentuk lapisan tanah organik. Gambut mampu menyerap air dengan intensitas cukup tinggi karena memiliki struktur tanah berpori dan mampu menahan air dalam jumlah besar dengan sifat seperti spons.
Lahan gambut diindonesia sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban tinggi yang dikombinasikan dengan akumulasi curah hujan tahunan serta erosi tanah (Siregar et al 2021) sehingga lahan gambut dapat terjadi kerusakan akibat kehilangan salah satu dari faktor tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan air yang baik sehingga gambut dapat terjaga dan produktivitas dapat diperoleh dengan maksimal.
Water management system pada lahan gambut merupakan rangkaian upaya dalam melakukan pemanfaatan dan pengelolaan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) agar tidak terlalu kering dan tidak tergenang sehingga tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan optimal. Teknis water management system dilakukan dengan membangun sekat kanal, pembuatan embung, menutup saluran kanal yang tidak digunakan, dan pompanisasi.

Gambar 1 Areal sebelum dan sesudah penanganan tata kelola air serta instrumennya
- Pembangunan Sekat Kanal
Sekat kanal berfungsi untuk mengatur serta menjaga muka air tanah pada lahan tidak mengalami pengeringan secara signifikan, meningkatkan kelembaban tanah, serta membantu akar tanaman kelapa sawit menyerap air pada muka air yang optimal. Berdasarkan kajian literatur menunjukkan penggunaan dan pembangunan sekat kanal dapat membantu mengembalikan fungsi ekosistem gambut dan mengurangi dampak pemanasan global (Triadi 2020 dalam Dayanti et al 2025). Ketinggian muka air optimum yang harus dijaga pada pembangunan sekat air berada pada ketinggian 40 – 60 cm dibawah permukaan tanah seperti terlihat pada gambar 1.
2. Pembuatan Embung
Mempertimbangkan sifat spons yang dimiliki oleh lahan gambut menyebabkan areal lahan memerlukan pembuatan wadah penampung air dan tadah hujan sebagai sarana penambahan kapasitas tampung air pada areal lahan gambut. Menurut Asri & Dahilin (2022) Embung merupakan salah satu bangunan konservasi air yang memiliki fungsi sebagai penampungan air hujan dan air limpasan untuk membantu menyediakan air pada tanaman terutama pada saat musim kemarau. Pada perkebunan kelapa sawit, embung juga berfungsi sebagai penyedia air pada saat terjadinya kebakaran pada lahan.

Gambar 2 Embung sebagai tampungan air
3. Penutupan Saluran Kanal yang tidak berfungsi
Saluran kanal yang tidak digunakan/tidak berfungsi perlu dilakukan penutupan untuk mengurangi aliran drainase dan mencegah air pada lahan gambut terbuang percuma. Saluran drainase yang berlebihan pada lahan gambut dapat meningkatkan potensi lahan gambut menjadi kering dan tidak mampu menyerap air kembali karena gambut memiliki sifat kering tidak balik (irrreversible drying) (Pandjaitan & Hardjoamidjojo 1999).

Gambar 3 Proses pompa untuk pembasahan
4. Pompanisasi
Pompanisasi merupakan salah satu bentuk upaya mitigasi resiko kekurangan air di lahan gambut pada saat musim kemarau. Pompanisasi bertujuan untuk memasukkan air dari luar areal gambut menuju lahan gambut untuk melakukan pembasahan pada areal-areal rawan kering. Umumnya metode pompa merupakan opsi cadangan yang dilakukan pada areal perkebunan seperti pada gambar 3.
Dampak Positif Pengelolaan Air yang Baik
Areal gambut yang memiliki tata kelola air yang baik mampu meminimalisir terjadinya kekeringan dan kebakaran lahan serta berfungsi untuk penyerapan karbon. Selain itu, pengelolaan air dapat meningkatkan produksi tanaman kelapa sawit karena tercipta pada kondisi aerob dengan melakukan penjagaan muka air tanah di rentang ideal sehingga akar tanaman mendapatkan pasokan oksigen yang ideal (Rahayu et al 2021).
Kesimpulan
Tata kelola air pada lahan gambut memiliki faktor penting dalam proses meminimalisir terjadinya resiko degradasi lahan gambut. Pencegahan tersebut dilakukan dengan melakukan empat faktor yaitu pembangunan sekat kanal, pembuatan embung, penutupan kanal yang tidak digunakan, dan pompanisasi (opsional). Dampak positif yang dapat dirasakan apabila tata kelola air dilakukan dengan baik ialah terjadinya peningkatan produktivitas pada tanaman kelapa sawit dan meniminalisir terjadinya kebakaran lahan.
Sumber:
- Siregar A, Walida H, Sitanggang KD, Harahap FS, Triyanto Y. 2021. Karakteristik Sifat Kimia Tanah Lahan Gambut di Perkebunan Kencur Desa Sei Baru Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhan Batu. Agrotechnology Research Journal Vol. 5(1) : 56-62.
- Triadi B.L.2020. Restorasi Lahan Rawa Gambut melalui Metode Pembasahan (Sekat Kanal) dan Paludikultur. Jurnal Sumber Daya Air, Vol 16(2):103-118
- Dayanti E, Anshari GZ, Gusmayanti E, Andriyani Y,Barry DSPA, Bowen JC, Gates R, Perryman CR, Hoyt A. 2025. Pengaruh Sekat Kanal terhadap Sifat Fisika dan Kimia dalam Air Saluran Drainase Gambut Terdegradasi. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol. 23(5):1155-1161
- Pandjaitan NH, Hardjoamidjojo S. 1999. Kajian Sifat Fisik Lahan Gambut dalam Hubungan dengan Drainase untuk Lahan Pertanian. Buletin Keteknikan Pertanian.
- Rahayu E, Basith MA, Putra DP. 2021. Hubungan Tata Kelola Air pada Lahan Gambut dengan Produktivitas Kelapa Sawit di PT. Uni Primacom, Desa Barunang Miri, Kecamatan Parenggean, Kab. Kotawaringin Timur, kalimantan Tengah. Jurnal Agroista Vol. 5(2):67-81
