ANALISA NITROGEN DALAM DAUN DENGAN METODE KJELDAHL: DARI TEKNIK KONVENSIONAL HINGGA METODE MODERN
Admin BARI (Bakrie Agriculture Research Institute) | 30 March 2026 14:56
ANALISA NITROGEN DALAM DAUN DENGAN METODE KJELDAHL: DARI TEKNIK KONVENSIONAL HINGGA METODE MODERN
Muhammad Ahan K, Hiras P. Sibuea, Michael
PENDAHULUAN
Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro esensial yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Kekurangan nitrogen akan menghambat fotosintesis dan menurunkan produktivitas tanaman. Kadar nitrogen pada jaringan daun sering dijadikan indikator status kesuburan tanaman serta efektivitas program pemupukan (Muñoz-Huerta et al., 2013). Analisa nitrogen dalam daun menjadi bagian penting dalam manajemen nutrisi tanaman, khususnya pada tanaman perkebunan seperti kelapa sawit. Tujuan utama dari analisa nitrogen ini adalah untuk mengetahui kemampuan tanaman menyerap nitrogen yang diberikan melalui pemupukan, hasilnya dapat menjadi dasar rekomendasi pemupukan agar produktivitas optimal dan efisiensi pupuk meningkat (Amoah et al., 2025).
ANALISA NITROGEN DALAM DAUN DENGAN METODE KJELDAHL
Metode Kjeldahl merupakan teknik klasik yang telah digunakan selama lebih dari satu abad untuk menentukan kandungan nitrogen total dalam sampel organik, termasuk jaringan daun. Meskipun dikembangkan pada tahun 1883, metode ini masih menjadi standar utama dalam banyak laboratorium karena keandalan dan akurasinya yang tinggi (Sun & Cao, 2025).
Prosedur analisis Kjeldahl terdiri dari tiga tahap utama, yaitu destruksi (digestion), destilasi (distillation), dan titrasi (titration).

- Destruksi (Digestion)
Sampel daun dikeringkan, digiling, dan ditimbang. Sampel kemudian dipanaskan dengan asam sulfat (H₂SO₄) dan katalis seperti selenium untuk memecah senyawa menjadi (NH₄)₂SO₄ (ammonium sulfat).
2. Destilasi (Distillation)
Larutan hasil destruksi ditambahkan basa kuat (NaOH) untuk mengubah ion ammonium menjadi amonia (NH₃). Amonia yang terbentuk didestilasi dan ditangkap dalam larutan asam borat.
3. Titrasi (Titration)
Larutan hasil penangkapan kemudian dititrasi dengan larutan asam kuat standar (misalnya HCl atau H₂SO₄) untuk menentukan jumlah nitrogen dalam sampel.
Metode Kjeldahl dikenal karena akurasi tinggi dan kestabilannya dalam mengukur nitrogen total, baik dalam bentuk organik maupun anorganik (Kayaphad et al., 2021). Versi modernnya kini telah diotomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kontak langsung dengan bahan kimia berbahaya (Sun & Cao, 2025).
PERKEMBANGAN DAN JENIS-JENIS ANALISA DAUN: DARI KONVENSIONAL HINGGA MODERN
1. Metode Konvensional (Destruktif)
Metode destruktif berarti sampel daun harus diambil, dikeringkan, dan diolah di laboratorium. Contohnya meliputi:
- Metode Kjeldahl untuk nitrogen total.
- Metode Indophenol Blue (Colorimetric): Amonia bereaksi dengan fenol dan hipoklorit dalam kondisi basa, menghasilkan senyawa indofenol biru.
- Metode Pembakaran Dumas: Metode ini mengubah semua bahan organik menjadi produk gas (N₂, CO₂, H₂O, dll.). Gas nitrogen yang dihasilkan kemudian diukur menggunakan detektor konduktivitas termal atau spektrometri massa.
Kelebihan: Akurasi tinggi dan hasil dapat dijadikan acuan standar laboratorium dan dapat mengukur berbagai unsur dengan tepat.
Kekurangan: Prosesnya lama karena memerlukan tahapan destruksi dan analisis laboratorium, menggunakan bahan kimia berbahaya seperti H₂SO₄ dan NaOH, bersifat destruktif — daun harus dihancurkan dan tidak bisa digunakan kembali (Muñoz-Huerta et al., 2013; Kayaphad et al., 2021).
2. Metode Modern (Non-Destruktif)
Kemajuan teknologi optik dan spektroskopi telah melahirkan berbagai metode analisa daun yang bersifat non-destruktif, yaitu tanpa merusak jaringan tanaman. Beberapa teknik populer di antaranya:
- NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) melalui citra drone atau satelit untuk memantau status nitrogen dari kanopi tanaman.
- Leaf Chlorophyll Meter (misalnya SPAD meter) untuk mengestimasi kadar klorofil sebagai indikator nitrogen.
- NIR (Near-Infrared Reflectance Spectroscopy) untuk memperkirakan kandungan nitrogen dan unsur hara lain berdasarkan spektrum pantulan daun.
Kelebihan: Cepat, praktis dan hasil dapat diperoleh langsung di lapangan. Tidak merusak tanaman, cocok untuk pemantauan berkelanjutan. Efisien untuk pengamatan pada skala luas.
Kekurangan: Akurasi dapat dipengaruhi kondisi lingkungan (cahaya, suhu, varietas tanaman). Memerlukan kalibrasi dengan data laboratorium konvensional. Biaya awal peralatan relatif tinggi (Féret et al., 2020; Muñoz-Huerta et al., 2013; Wang et al., 2020).
PERBANDINGAN METODE ANALISA NITROGEN PADA DAUN

| Aspek | Konvensional (Destruktif) | SPAD / NIR / NDVI (Non-Destruktif) |
| Jenis Analisa | Nitrogen total | Nitrogen relatif (indikatif) |
| Akurasi | Sangat tinggi | Sedang – tinggi (tergantung kalibrasi) |
| Waktu Analisa | Lama (jam/hari) | Cepat (detik/menit) |
| Bahan Kimia | Ya (asam dan basa kuat) | Tidak |
| Aplikasi | Laboratorium | Laboratorium, Lapangan |
| Kelebihan | Akurat, reliabel | Cepat, efisien, ramah lingkungan |
| Kekurangan | Destruktif, memakan waktu | Investasi Awal tinggi, Perlu kalibrasi, sensitif terhadap kondisi |
(Sun & Cao, 2025; Féret et al., 2020)
KESIMPULAN
Metode Kjeldahl tetap menjadi standar emas (gold standard) dalam analisa nitrogen daun karena akurasi dan kemampuannya dalam mengukur nitrogen total. Namun, perkembangan teknologi sensor optik seperti SPAD, NIR, dan NDVI telah membuka peluang baru untuk analisa cepat dan non-destruktif (Muñoz-Huerta et al., 2013; Wang et al., 2020). Pendekatan ideal adalah kombinasi keduanya — metode destruktif (Kjeldahl) di laboratorium sebagai acuan validasi, dan metode non-destruktif untuk pemantauan cepat di lapangan. Dengan sinergi tersebut, manajemen nutrisi tanaman dapat dilakukan secara lebih presisi, efisien, dan berkelanjutan (Muñoz-Huerta et al., 2013; Ata-Ul-Karim et al., 2016; Dong et al., 2020).
Daftar Pustaka
- Amoah, J. N., Keitel, C., & Kaiser, B. N. (2025). Nitrogen Deficiency Impacts Growth and Modulates Carbon Metabolism in Maize. Planta, 262, 94.
- Ata-Ul-Karim, S. T., Liu, X., Lu, Z., Zhang, J., & Cao, W. (2016). Non-destructive assessment of plant nitrogen parameters for rice management. Frontiers in Plant Science, 7, 1829.
- Dong, R., Zhou, Y., Zhang, X., Liu, B., & Zhao, Y. (2020). Estimating plant nitrogen concentration of maize using leaf sensors and spectral methods. Remote Sensing, 12(7), 1139.
- Féret, J.-B., Berger, K., de Boissieu, F., & Malenovský, Z. (2020). PROSPECT-PRO for Estimating Content of Nitrogen-Containing Leaf Proteins and Other Carbon-Based Constituents. Remote Sensing of Environment, 247, 111–122.
- Kayaphad, B., Isarangkool Na Ayutthaya, S., Hongpakdee, P., & Siriwong, C. (2021). Comparison of Two Methods for the Determination of Nitrogen in Leaf and Yield in Banana, Jujube and Rubber Tree. Acta Horticulturae, 1312, 475–482.
- Muñoz-Huerta, R. F., Guevara-Gonzalez, R. G., Contreras-Medina, L. M., et al. (2013). A Review of Methods for Sensing the Nitrogen Status in Plants: Advantages, Disadvantages and Recent Advances. Sensors, 13(8), 10823–10843.
- Sun, X., & Cao, T. (2025). A Study on the Determination of Total Nitrogen in Soils by the Automatic Kjeldahl Nitrogen Analyzer. Frontiers in Science and Engineering, 5(5), 1–9.
- Wang, L., Zhang, Y., Zhang, X., & Yang, J. (2020). Advances in Remote Sensing for Crop Nitrogen Estimation. Remote Sensing, 12(16), 2574.
