Pengelolaan Terpadu Ganoderma Melalui Pendekatan Kimia, Biologi, Fisik, dan Ekologi Tanah

Admin BARI (Bakrie Agriculture Research Institute) | 6 April 2026 14:35

Pengelolaan Terpadu Ganoderma  Melalui Pendekatan Kimia, Biologi, Fisik, dan Ekologi Tanah

 

                                          NEWSFLASH : Pengelolaan Terpadu Ganoderma 

                                  Melalui Pendekatan Kimia, Biologi, Fisik, dan Ekologi Tanah

 

  

 

 

  April, 2026. Kisaran, Sumut. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia karena menyumbang sekitar 58% kebutuhan minyak sawit global (usda.gov). Namun, keberlanjutan industri kelapa sawit nasional menghadapi ancaman serius dari penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan patogen Ganoderma boninense. Berdasarkan data BDPKS dan berbagai laporan teknis Ganoderma di Indonesia menyebutkan bahwa Ganoderma sudah menyerang 4,9 juta hektar pertanaman kelapa sawit di Indonesia dan menghilangkan opportunity loss devisa yang diperkirakan mencapai 111.8 T (Sipayung, 2024). Kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk akibat terjadi pergeseran iklim. Paterson (2019) melaporkan bahwa perubahan iklim akan memperburuk kondisi ini, di mana setelah tahun 2050 tingkat kesesuaian iklim untuk kelapa sawit diproyeksikan menurun secara signifikan dan diikuti dengan peningkatan kejadian penyakit Ganoderma hingga tingkat yang sangat tinggi khususnya di sebagian besar wilayah Sumatera. Bahkan, produksi  kelapa  sawit  diperkirakan  berpotensi  menjadi tidak berkelanjutan pada periode 2050–2100 apabila tidak dilakukan upaya mitigasi yang efektif sejak dini. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang dilakukan secara komprehensif, holistik, dan terintegrasi untuk menekan perkembangan penyakit Ganoderma, khususnya di PT BSP mengingat serangan Ganoderma saat ini telah terjadi di beberapa wilayah kebun, seperti Sumatera Utara.


 

  Salah satu pendekatan utama saat ini dalam pengelolaan penyakit Ganoderma saat ini yaitu dengan pengelolaan kesehatan tanah. Tanah merupakan kerajaan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada interaksi antara tanaman, mikroorganisme, dan patogen. Dari hasil penelitian Sundram (2026) menunjukkan bahwa cendawan Ganoderma memiliki kemampuan tumbuh pada rentang pH yang sangat luas (pH 3–9), dengan pertumbuhan optimum pada pH sekitar 5. Di sisi lain, kelapa sawit juga memiliki kisaran pH optimum yang relatif sama. Dilaporkan juga, bahwa dengan perbaikan pH tanah disertai dengan pemupukan mampu meningkatkan ketahanan tanaman dan menekan perkembangan penyakit.

  Seain pH tanah, ternyata keseimbangan hara tanaman berpengaruh terhadap kemampuan tanaman pada ketahanan tanaman terhadap infeksi penyakit. Sebagai contoh, kelebihan unsur tertentu dapat memperberat kondisi tanaman terhadap cekaman penyakit. Misalnya, akumulasi kalium (K) yang tinggi pada tanah pesisir dan fosfor (P) pada tanah gambut dikaitkan dengan peningkatan keparahan penyakit Ganoderma. Sebaliknya, defisiensi unsur mikro seperti Fe dan Zn dapat melemahkan sistem pertahanan tanaman. Oleh karena itu, pendekatan pemupukan tidak lagi hanya berfokus pada kuantitas, tetapi harus berdasarkan kebutuhan spesifik lokasi dan kondisi tanah.  Witjaksana (2026) menyatakan bahwa unsur Ca dan B berperan penting dalam penguatan dinding sel dan lignifikasi, unsur K untuk osmoregulasi dan aktivasi enzim, Mg untuk suplai energi, enzim, dan fungsi fisiologis sehingga terjadi peningkatan ketahanan tanaman terhadap penyakit Ganoderma. 

  Selain aspek kimia, faktor fisik tanah juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan penyakit, terutama pada lahan gambut. Tanah gambut memiliki karakteristik kandungan bahan organik tinggi, porositas besar, dan bulk density rendah. Kondisi ini menyebabkan retensi air yang tinggi dan aerasi yang buruk, sehingga menciptakan lingkungan hipoksia yang tidak menguntungkan bagi akar tanaman. Penelitian Sundram (2026) menunjukkan bahwa area dengan tingkat kelembapan tinggi cenderung memiliki insiden Ganoderma yang lebih besar. Sebaliknya, peningkatan bulk density dengan aplikasi tankos pada gambut saprik dapat membantu memperbaiki struktur tanah dan mengurangi risiko infeksi. Kesimpulannya dengan tata kelola air melalui sistem drainase yang baik serta perbaikan struktur tanah menjadi komponen penting dalam pengendalian penyakit di lahan gambut.

  Selain pendekatan fisik dan kimia, pemanfaatan agen hayati menjadi salah satu inovasi penting dalam pengendalian Ganoderma. Mikroorganisme seperti Trichoderma, Streptomyces, Bacillus, dan Hendersonia dilaporkan memiliki kemampuan untuk menekan pertumbuhan patogen sekaligus meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Sebagai contoh, hingga saat ini Trichoderma merupakan agen hayati yang paling banyak diteliti dan dikembangkan sebagai biopestisida, biofertilizer, dan amelioran tanah. Mekanisme utama biokontrol yang digunakan Trichoderma dalam menghadapi patogen adalah mikoparasitisme dan antibiosis, mampu bersaing dengan patogen dalam memperoleh nutrisi dan ruang hidup (Harman, 2000).

  Selain itu, pemahaman mengenai dinamika penyebaran patogen juga terus berkembang.  Temuan terbaru Hendarjanti (2025) bahwa penyebaran Ganoderma terjadi melalui serangga vektor kumbang dari genus Eumorphus sebagai kandidat vektor yang membawa spora Ganoderma. Serangga ini ditemukan membawa spora baik secara eksternal maupun internal, dan berpotensi memindahkan spora dari sumber infeksi ke tanaman sehat. Hal ini memberikan perspektif baru dalam memahami dinamika penyebaran penyakit, terutama pada kasus infeksi yang tidak dapat dijelaskan oleh kontak akar semata. Meskipun begitu, tidak semua spora Ganoderma mampu menyebabkan infeksi. Karena proses infeksi bergantung pada kompatibilitas genetik antar spora identik yang membentuk struktur dikariotik sehingga berkembang menjadi patogenik. Hanya sebagian kecil kombinasi yang menghasilkan strain agresif, sehingga infeksi melalui spora sebenarnya memiliki probabilitas rendah namun berdampak besar. Oleh karena itu, pengelolaan sumber spora, seperti melalui pengutipan tubuh buah (basidiocarp), menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan inokulum di lapangan.

  Secara keseluruhan, pengendalian penyakit                      G. boninense pada kelapa sawit memerlukan pendekatan terpadu yang mengintegrasikan aspek kimia, fisik, dan biologis tanah. Fokus utama harus diarahkan pada peningkatan kesehatan tanah melalui pengelolaan pH, keseimbangan nutrisi tanah, dan kondisi fisik tanah dengan aplikasi tankos. Penggunaan agen hayati serta penerapan praktik budidaya yang baik, termasuk sanitasi dan pengelolaan biomassa inokulum patogen, menjadi komponen penting dalam sistem pengendalian penyakit yang berkelanjutan. Harapannya dengan pengelolaan penyakit secara terpadu dapat mencegah terjadinya serangan penyakit Ganoderma sehingga dapat mencapai usia produktif tanaman kelapa sawit.

(Contributor: Loly VA Pakpahan)


 

 

Sumber: 

Harman, G. E. 2000. Changes in Perceptions Derived from Research on Trichoderma harzianum T-22. Plant Disease. Cornell University and BioWorks, Inc., Geneva, NY

Henndarjanti, H. 2025. Ganoderma: Manajemen dan Tantangan Masa Depan Dalam Mendukung Keberlanjutan Kelapa Sawit. Disampaikan pada Talkshow Planters (Indonesian Society Planters) 5-6 Juli, Medan.

Paterson, R.R.M. 2019. Ganoderma boninense Disease of Oil Palm to Significantly Reduce Production After 2050 in Sumatra if Projected Climate Change Occurs. Microorganisms 2019, 7, 24; doi:10.3390/microorganisms7010024

Sipayung, T. 2024. Kerugian Ekonomi Serangan Ganoderma Sawit Dan Ancaman Masa Depan Industri Sawit Nasional. Kebijakan Keamanan Perkebunan. Diakses dari palmoilina.asia

Sundram, S. 2026. Integrated Ganoderma Management: Research Advances in Nutrient, Biological Control Agents, Insect Associations, DNA Markers and Metabolites. Disampaikan pada ISGANO 2026: 9 – 11 February 2026 Medan, Indonesia.

Witjaksana, D. 2026. Unsur V18, Hara dan Ketahanan Basal Stem Rot. Disampaikan pada ISGANO 2026: 9 – 11 February 2026 Medan, Indonesia.

***

 

 

 

Share

Other News