PENGARUH pH TANAH TERHADAP KESUBURAN TANAMAN

Admin BARI (Bakrie Agronomy Research and Innovation) | 13 May 2026 08:51

PENGARUH pH TANAH TERHADAP KESUBURAN TANAMAN

                                                   PENGARUH pH TANAH TERHADAP KESUBURAN TANAMAN

 

                                                                                             Michael, Muhammad Ahan K, Hiras P. Sibuea

 

 

  pH tanah merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen (H⁺) dalam larutan tanah yang menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan tanah. Skala pH berkisar 0–14, dengan pH < 7 bersifat asam, pH 7 netral, dan pH > 7 bersifat basa. Menurut Brady, Nyle C. dan Weil, Ray R., pH tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah terpenting karena sangat memengaruhi ketersediaan unsur hara dan aktivitas biologi tanah.

 

1. Pengaruh pH terhadap Ketersediaan Unsur Hara

 pH tanah memengaruhi bentuk kimia (spesiasi) dan kelarutan unsur hara.

 

1.1 Pada Tanah Masam (pH < 5,5)

P (fosfor) terikat oleh Al dan Fe sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Kelarutan Al³⁺ meningkat dan dapat menyebabkan keracunan akar. Ca dan Mg umumnya rendah karena tercuci (leaching). Hal ini dijelaskan dalam buku The Nature and Properties of Soils, bahwa pada pH rendah, fosfat membentuk kompleks tidak larut dengan Al dan Fe.

 

1.2 Pada Tanah Netral (pH 6–7)

  Sebagian besar unsur makro (N, P, K, Ca, Mg, S) tersedia optimal. Aktivitas mikroorganisme tanah maksimum. Menurut Havlin, John L. dalam buku Soil Fertility and Fertilizers, kisaran pH 6–7 merupakan kondisi terbaik untuk sebagian besar tanaman budidaya.

 

1.3 Pada Tanah Basa (pH > 7,5)

  Unsur mikro seperti Fe, Mn, Zn, dan Cu menjadi kurang tersedia. Gejala klorosis besi sering muncul pada tanaman hortikultura.

 

2. Pengaruh pH terhadap Aktivitas Biologis Tanah

  Mikroorganisme tanah berperan dalam mineralisasi bahan organik dan fiksasi nitrogen. Proses nitrifikasi (perubahan NH₄⁺ menjadi NO₃⁻) sangat sensitif terhadap pH. Penelitian klasik oleh Russell, E. W. dalam buku Soil Conditions and Plant Growth menunjukkan bahwa bakteri nitrifikasi bekerja optimal pada pH mendekati netral dan menurun drastis pada pH < 5.

 

3. Dampak pH terhadap Pertumbuhan Akar

  Pada tanah sangat asam, Al³⁺ dapat merusak ujung akar sehingga pertumbuhan akar terhambat, penyerapan air dan hara menurun serta produksi tanaman berkurang. Menurut FAO, sekitar 30% lahan pertanian dunia memiliki masalah kemasaman tanah yang membatasi produksi tanaman.

 

4. Pengelolaan pH Tanah

 

4.1 Tanah Asam

  Perbaikan dilakukan melalui pengapuran menggunakan CaCO₃ atau dolomit (CaMg(CO₃)₂). Pengapuran meningkatkan pH serta menambah unsur Ca dan Mg. Aplikasi janjang kosong (jangkos) secara signifikan dapat meningkatkan pH tanah, baik pada lapisan topsoil maupun subsoil. Peningkatan pH sekitar 1 unit terjadi pada dosis 150 kg/pokok/tahun, sedangkan dosis 300 kg/pokok/tahun meningkatkan pH hingga sekitar 2 unit. Peningkatan ini tetap terjadi meskipun pada kondisi tanah sangat masam. Selain itu, aplikasi jangkos menurunkan konsentrasi aluminium (Al) dapat tukar secara signifikan, terutama pada dosis yang lebih tinggi (Bakar et al. 2011).

4.2 Tanah Basa

  Perbaikan dapat dilakukan dengan penambahan sulfur (S), aplikasi bahan organik dan pemupukan yang bersifat asam fisiologis. Menurut pedoman teknis USDA, pengelolaan pH harus didasarkan pada analisis tanah agar dosis koreksi tepat.

 

5. Cara Mengukur

  Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan pH meter, kertas lakmus dan alat soil tester di lapangan. Namun untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan presisi maka pH meter adalah alat yang direkomendasikan untuk digunakan. Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah, yang dinyatakan sebagai -Log [H+]. Peningkatan konsentrasi H+ meningkatkan potensial larutan yang diukur oleh alat dan dikonversi dalam skala pH. Elektroda gelas merupakan elektroda selektif khusus H+, hingga memungkinkan untuk hanya mengukur potensial yang disebabkan kenaikan konsentrasi H+. Potensial yang timbul diukur berdasarkan potensial elektroda pembanding (Kalomel atau AgCl). Biasanya digunakan satu elektroda yang sudah terdiri dari elektroda pembanding dan elektroda gelas (elektroda kombinasi). Konsentrasi H+ yang diekstrak dengan air menyatakan kemasaman aktif (aktual) sedangkan pengekstrak KCl 1N menyatakan kemasaman Cadangan (potensial). (Balai Penelitian Tanah)

 

 

 

Gambar 1. Pengukuran pH menggunakan pH meter.

 

6. Kesimpulan

pH tanah adalah faktor kunci dalam kesuburan karena memengaruhi:

1.  Ketersediaan unsur hara

2.  Aktivitas mikroorganisme

3.  Perkembangan sistem perakaran Sebagian besar tanaman pertanian tumbuh optimal pada pH 5,5–6,5. Oleh karena itu, analisis pH tanah secara rutin dan tindakan koreksi yang tepat merupakan bagian penting dari manajemen kesuburan tanah.

 

7. Daftar Pustaka

  1. Balai Penelitian Tanah (2005), Petunjuk teknis analisa kimia tanah, tanaman, air dan pupuk, 7-8.
  2. Bakar RA et al. (2011). Effects of ten year application of empty fruit bunches in an oil palm plantation on soil chemical properties. Nutr Cycl Agroecosyst 89:341–349.
  3. Brady, N. C., & Weil, R. R. (2016). The Nature and Properties of Soils(15th ed). Columbus. OH:Pearson
  4. Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2015). Status of the World’s Soil Resources – Main Report. Rome, Italy: FAO
  5. Havlin, J. L., et al. (2014). Soil Fertility and Fertilizers:An Introduction to Nutrient Management (8th ed). Boston, MA : Pearson
  6. Russell, E. W. (1973). Soil Conditions and Plant Growth (10th ed), London, UK:Longman
  7. USDA Soil Survey Staff. (2014). Soil Survey Laboratory Methods Manual ( Soil Survey Investigations Report No. 42, Version 5.0). Washington, DC:United States Department of Agriculture, Natural Resources Conservation Service.

Share

Other News

Pengenalan Sistem Informasi Geografis (GIS)
GROUND MANAGEMENT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
PENGUATAN TANGGUL BERPASIR DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT