Pengelolaan Dampak Lingkungan

PT. BSP menyadari sepenuhnya bahwa usaha perkebunan di Indonesia memiliki tanggung jawab lingkungan yang besar, oleh karenanya melakukan upaya untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan; termasuk komitmen terhadap ketentuan ISPO dan RSPO.
Pengelolaan lingkungan dalam PT. BSP pada tahun 2015 diwarnai dengan upaya pencegahan kebakaran lahan terkait bencana asap nasional, disamping difokuskan pada pemenuhan terhadap ketentuan ISPO dan RSPO. Sejalan dengan persyaratan yang ditetapkan dalam kedua proses sertifikasi, seluruh lahan tanaman produksi sawit dikelola dengan pertimbangan atas pemeliharaan keanekaragamanhayati, area konservasi, daerah aliran sungai dan kearifan lokal; pemanfaatan lahan untuk perkebunan – baik sawit maupun karet – diupayakan tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat tempatan serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Efisiensi Pemakaian Energi dan Sumber Daya Air

Industri sawit sering dinyatakan sebagai industri yang banyak menggunakan sumber daya alam. PT. BSP menyikapi stigma tersebut dengan berinisiatif untuk mengurangi konsumsi energi. Upaya penghematan energi dan air dilakukan baik di tingkat korporasi maupun di setiap unit usaha.
Semua unit usaha PT. BSP – termasuk unit korporasi (Jakarta) – telah memperoleh sertifikasi ISO 14001 untuk Sistem Pengelolaan Lingkungan. Pada tingkat korporasi, setiap Departemen dan Divisi bertanggung jawab atas upaya penghematan pemakaian air. Sedangkan pada setiap unit usahanya, PT. BSP menetapkan target yang disesuaikan dengan kondisi terkait optimalisasi operasi dalam mengupayakan efisiensi penggunaan energi dan air. Program Pengelolaan Lingkungan diterapkan di semua unit usaha untuk memastikan pelaksanaan upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan diaudit oleh lembaga sertifikasi terkait melalui penilaian lapangan atas upaya penghematan energi yang dilakukan di setiap area operasi PT. BSP.

Pengelolaan Energi

Penggunaan solar sebagai sumber energi tidak terbarukan diupayakan menurun, antara lain dengan modifikasi boiler dari tipe SFPO menjadi tipe Membrane, yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi, dengan sumber energi alternatif biomassa (cangkang dan serat) sebagai bahan bakar boiler, yang telah dilakukan sejak tahun 2008.

Pengelolaan Air

Untuk perkebunan sawit, PT. BSP menerapkan penggunaan parit - baik parit alami maupun yang dibuat khusus - dalam upaya menjaga kelembaban tanah pada lahan gambut, dengan perbandingan 1 parit untuk setiap 4 baris tanaman sawit. Pengawasan atas ketinggian air dalam parit dilakukan guna menjaga pasokan bagi kebutuhan air tanaman sawit (sebagai penampungan saat musim hujan dan cadangan air slow release saat musim kemarau).
PT. BSP senantiasa melakukan pemantauan efisiensi penggunaan air terkait upaya penurunan konsumsi air yang telah dilakukan sejak tahun 2008, sejalan dengan upaya PT. BSP melakukan sosialisasi secara rutin kepada karyawan tentang pentingnya penggunaan air yang efisien; serta melakukan perawatan instalasi air dan segera melakukan perbaikan instalasi jika terjadi kebocoran.
PT. BSP mendorong seluruh unit usahanya untuk secara bijaksana menggunakan sumber air, baik yang berada di permukaan tanah maupun yang berasal dari bawah tanah; dengan prioritas penggunaan air dari sumber permukaan tanah untuk proses pembersihan, dan air bawah tanah untuk proses produksi yang lebih steril.
Untuk penggunaan air bawah tanah, PT. BSP berupaya memenuhi kebutuhan air dari sumber air yang ada dengan menjaga daerah tangkapan air di dalam wilayah operasi - termasuk menjaga penghijauan sepanjang daerah aliran sungai - sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam pemanfaatan air.
Kebutuhan air juga dipenuhi dengan memanfaatkan hasil daur ulang olahan limbah cair yang dikelola dalam kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah dimiliki setiap unit usaha.
PT. BSP memiliki komitmen untuk terus melakukan upaya efisiensi energi dalam kegiatan operasionalnya.

Pengelolaan Limbah

Usaha perkebunan dan industri kelapa sawit dan karet menghasilkan berbagai limbah yang berbentuk padat maupun cair.

Limbah Padat

Tandan kosong

  Sejak tahun 2011 PT. BSP melakukan pembuatan kompos dengan memanfaatkan tandan kosong di Unit Jambi yang diaplikasikan untuk kegiatan penanaman dan perawatan pohon sawit serta untuk menghambat pertumbuhan gulma.

Cangkang dan Serat

  PT. BSP telah memanfaatkan cangkang dan serat sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar boiler, sebagai mulsa dalam pembibitan kelapa sawit, serta sebagai material konstruksi pengerasan jalan sekitar wilayah usaha.

Limbah Cair

Guna mengurangi tingkat pencemaran air sungai oleh limbah cair pabrik kelapa sawit, Perusahaan Anda memanfaatkan limbah cair pabrik sebagai bahan pupuk organik untuk meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS). Limbah cair pabrik diolah dengan sistem land application
Selain itu untuk mencegah pencemaran tanah akibat tumpahan BBM Solar saat kondisi darurat, PT. BSP antara lain melakukan penyimpanan pada tangki timbun di gudang Bunut; membuat tampungan dan lantai kedap air.
Lebih lanjut, dalam mencegah pencemaran tanah dan air, serta menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan karyawan, PT. BSP melakukan pengelolaan sampah anorganik secara berkelanjutan, berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten setempat.

Pengolahan Air Limbah

Untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), PT. BSP memiliki 8 kolam pengolahan di Unit Usaha Jambi 1 (AGW), 11 kolam pengolahan di Jambi 2 (SNP) dan 7 kolam pengolahan di Sumbar (BPP Air Balam). Untuk SNP dan BPP, PT. BSP telah menerapkan teknologi Clean Development Mechanism/ CDM (lihat bagian Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca).

Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Pemerintah telah menerapkan peraturan yang lebih ketat mengenai penanganan limbah B3 sejak 2014, mewajibkan adanya kerjasama tripartit antara perusahaan, pengumpul limbah serta pengolah limbah.
PT. BSP senantiasa memegang komitmen untuk memantau penggunaan limbah, khususnya B3, mulai dari proses pengangkutan dari rantai pasokan, penyimpanan di gudang, penggunaan, hingga pengelolaan bekas pakai.
Limbah B3 pelumas (oli) dari proses produksi dalam jumlah yang signifikan; berasal dari mesin genset, turbin, kendaraan bermotor, gear box mesin-mesin produksi dan aktivitas bengkel. Selain itu, limbah B3 lainnya dapat berupa aki bekas, filter oli bekas, lampu neon/merkuri, toner bekas, majun bekas dan kemasan bahan kimia yang digunakan dalam operasional perkebunan.
Dalam pengelolaan limbah, PT. BSP melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

  • Meminta izin penyimpanan sementara limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kantor Lingkungan Hidup di Jakarta yang berlaku selama tiga tahun;
  • Menyimpan limbah B3 selama 90-180 hari sesuai Peraturan Pemerintah yang berlaku;
  • Mengirim limbah B3 ke tempat pengumpul dan pemusnah limbah B3 yang sudah mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK )

Konservasi Lingkungan Alam

Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Menjaga keanekaragaman hayati di lokasi operasi usaha merupakan salah satu komitmen PT. BSP dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan operasi dengan alam, juga sejalan dengan ketentuan yang ditetapkan dalam proses sertifikasi ISPO dan RSPO terkait pemeliharaan areal konservasi. Pada tahun 2014, PT. BSP tidak melakukan pembukaan lahan baru.

Areal Konservasi

PT. BSP mengembangkan dan menjaga areal konservasi di beberapa unit usaha, dengan mengalokasikan lahan seluas 15-30 Ha yang kaya akan keanekaragaman hayati dan tidak ditanami dengan tanaman komoditas. Lahan tersebut menjadi kluster di tengah lokasi perkebunan. Model kluster ini akan digunakan sebagai model acuan bagi pengembangan lahan serupa di masa mendatang. Total areal konservasi PT. BSP pada tahun 2015 mencakup 63,45 Ha. Adanya areal konservasi ini mempertegas bahwa PT. BSP dalam menjalankan usahanya senantiasa menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati dan juga warisan adat serta budaya (cultural heritage) yang ada di dalam perkebunan PT. BSP.
Areal Konservasi Pertama PT. BSP telah diresmikan pada tanggal 11 September 2006, berlokasi di kebun inti Air Balam, Pasaman Barat, milik Unit Sumbar. Areal seluas hampir 30 Ha ini dinamakan sesuai dengan pendiri Kelompok Usaha Bakrie, H. Achmad Bakrie.
Sampai saat ini, PT. BSP sangat menjaga areal konservasi tersebut yang berfungsi sebagai kawasan pelestarian flora dan fauna langka, penyerapan air, serta untuk kepentingan pendidikan. Dikelola bersama Dinas Kehutanan, areal konservasi tersebut pun dijaga oleh komunitas sekitar yang telah mengikuti sosialisasi hutan lestari.
PT. BSP juga mengelola areal konservasi di wilayah operasi Unit Sumut 1 dan Jambi dengan luas masing-masing 19,10 Ha dan 14,35 Ha.

Miniatur Hutan Konservasi

PT. BSP melalui Unit Jambi juga telah mengembangkan “Miniatur Hutan Konservasi” seluas 17 Ha, berlokasi di tengah perkebunan sawit dan dekat dengan lingkungan masyarakat sekitar; bertujuan untuk menjaga serta mengembangkan keanekaragaman hayati yang ada, melalui upaya penanaman bibit tanaman langka dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait yang juga bertujuan untuk memelihara ekosistem yang ada, perlindungan dan pemeliharaan flora dan fauna yang terdapat di dalamnya, pengembangan jenis flora, serta upaya pemantauan dan pelaporan; juga menjadi areal resapan air, area yang memproduksi O2 dan menyerap CO2, sumber makanan hewan, serta sebagai area wisata bagi masyarakat dan karyawan.
Miniatur Hutan Konservasi ini memperoleh penghargaan dari kegiatan tiga-tahunan Indonesian CSR Awards 2014 yang diadakan oleh Corporate Forum for Community Development (CFCD).

Hutan Vegetasi

PT. BSP melalui Unit Jambi mulai tahun 2011 membangun kawasan hutan vegetasi di beberapa lokasi kebun yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan khususnya habitat hewan dan tumbuhan, sebagai upaya untuk mengembalikan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta memperbaiki keseimbangan ekosistem. Hutan vegetasi pertama telah dikembangkan di Tanjung Jabung Barat, Jambi. Hutan vegetasi dan habitat yang ada di dalamnya berjalan secara alami. PT. BSP tidak melakukan pemantauan khusus terhadap habitat hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya.

Pemberantasan Hama Secara Pengendalian Hayati

PT. BSP menerapkan upaya pengendalian hayati dalam pemberantasan hama untuk mengurangi penggunaan pestisida/zat kimia lainnya, sejalan dengan fokus untuk menjaga kualitas produksi tanaman sawit serta penerapan operasi yang ramah lingkungan.
Upaya pengendalian hayati yang dilakukan mencakup pemanfaatan tanaman Bunga Pukul Delapan (Turnera ulmifolia dan Turnera subulata) sebagai inang bagi serangga pemangsa hama Ulat Api (Setothosea asigna), serta penangkaran Burung Hantu (Tyto alba) sebagai pemangsa hama tikus.

Menjaga Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi

Selain mengembangkan dan menjaga areal konservasi yang sebelumnya sudah kaya akan keanekaragaman hayati, PT. BSP juga melakukan identifikasi atas kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value - HCV) dengan melakukan kajian terhadap luasan kebun secara keseluruhan.
Untuk memudahkan penjagaan kawasan HCV, PT. BSP telah mengidentifikasikan keberadaan kawasan HCV, yakni di Unit Sumut 1, Sumbar dan Sumbagsel; yang meliputi kategori keanekaragaman hayati, jasa lingkungan dan sosial budaya. Untuk Unit Sumut 1 dengan total luas lahan tertanam kelapa sawit 7.330 Ha dijumpai 3 dari 6 tipe HCV di area penilaian seluas 11,51 Ha atau 0,15%, yaitu HCV 1, HCV 4 dan HCV 6; tidak dijumpai indikasi keberadaan HCV 2, HCV 3 dan HCV 5. Untuk areal HGU Sumbar dijumpai 3 tipe HCV dengan total area seluas 507,6 Ha atau 5,2% dari luas HGU, yaitu HCV 1, HCV 3, dan HCV 4; tidak dijumpai indikasi keberadaan HCV 2 dan HCV 5. HCV 6 dijumpai di luar areal HGU tetapi berbatasan langsung. Di Unit Jambi dengan total luas HGU 4.708 Ha dijumpai 3 tipe HCV di area penilaian seluas 611,27 Ha atau 12,98%, yaitu HCV 1, HCV 2 dan HCV 4; tidak dijumpai indikasi keberadaan HCV 3, HCV 5 dan HCV 6.
Kajian HCV untuk daerah operasi Kalimantan Tengah saat ini sedang dalam proses perencanaan.

Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Seiring dengan seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melalui UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) akan pentingnya upaya penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (Green House Gases – GHGs), PT. BSP telah mengembangkan proyek CDM (Clean Development Mechanism) di Unit Jambi dan Sumbar. Fasilitas CDM pada Unit BPP dan SNP di PT. BSP telah terdaftar pada UNFCCC, masing-masing sejak 12 November 2009 dan 18 Februari 2010.
Dalam proyek CDM, PT. BSP melakukan pengolahan limbah cair di fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL/Waste Water Treatment-WWT) menjadi biogas dan menangkap serta membakar gas metana yang dihasilkan dari proses tersebut. Besarnya biogas yang diproduksi, menjadi dasar perhitungan besarnya emisi karbon yang direduksi. Gas metana yang dihasilkan dari proses ini memiliki intensitas 21 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Karbon Dioksida (CO2). Proyek CDM ini diharapkan dapat mendorong upaya berkelanjutan dalam penurunan emisi gas rumah kaca, serta untuk pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif dalam jangka panjang. Dengan demikian, CDM juga memberikan keuntungan tambahan seperti adanya akses untuk efisiensi penerangan dan memasak, peningkatan kualitas udara dan kualitas hidup.